Kedudukan Wahyu (Agama) Dan Akal (Filsafat) Dalam Filsafat Ilmu

Authors

  • Akhsanul Huda STIT Misbahul Ulum Gumawang OKU Timur Sumatera Selatan

DOI:

https://doi.org/10.70688/idaarotululum.v1i2%20Desember.101

Keywords:

kedudukan wahyu, akal, agama dan filsafat

Abstract

Satu hal yang membuat manusia lebih baik dari mahkluk yang lain yaitu manusia mampu berpikir dengan akalnya,karena manusia dianugerahi oleh Allah dengan akal sehingga dengannya manusia mampu memilih, mempertimbangkan, menentukan jalan pikirannya sendiri. Agama Islam sangat menjunjung tinggi kedudukan akal. Dengan akal manusia mampu memahami al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan lewat Nabi Muhammad,dengannya juga manusia mampu menelaah kembali sejarah Islam dari masa lampau. Setelah Nabi saw wafat, permasalahan yang dihadapi umat Islam semakin kompleks. Islam bahkan menjadikan akal sebagai salah satu diantara lima hal primer yang diperintahkan oleh syariah untuk dijaga dan dipelihara, dimana kemaslahatan dunia dan akhirat amat disandarkan pada terjaga dan terpeliharanya kelima unsur tersebut, yaitu: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta

References

Ahmad Izzan, Saehudin, Tafsir Pendidikan. Pustaka Aufa Media, Banten. 2012.

Beni Ahmad Saebani, Filsafat Ilmu, CV Pustaka setia, Bandung, 2009.

Departemen Agama RI, Al Qur’an Terjemahan, Perkata, Jakarta, 1971.

Harun Nasution,Akal dan Wahyu,UI Press, Jakarta, 1986.

Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an, Jakarta: Bulan Bintang.

Harun Nasution,Muhamad Abduh,Teologi rasional Mu’tazilah,UI Press,Jakarta.

Manna’Khalil al-Qattan,Studi Ilmu-Ilmu Qur’an.Pustaka Litera Antar Nusa,Bogor,2011

Moh. Matsna,Al Qur’an Hadits,PT.Karya Toha Putra,Semarang,2004.

Muhamad Daud Ali ,Pendidikan Agama Islam, PT Raja Grafindo Persada,Jakarta,2004.

Osman Raliby,Akal dan Wahyu,Media Dakwah,1981.

Additional Files

Published

2019-12-28

How to Cite

Akhsanul Huda. (2019). Kedudukan Wahyu (Agama) Dan Akal (Filsafat) Dalam Filsafat Ilmu. Jurnal Idaaratul ’Ulum (Jurnal Manajemen Pendidikan Islam), 1(2 Desember), 191–204. https://doi.org/10.70688/idaarotululum.v1i2 Desember.101